Jakarta – Manajemen Rio Haryanto, PT Kiky Sport
diminta pro-aktif mencari sponsor lain agar bisa tampil di Formula 1
(F1) musim ini. Jika hanya mengandalkan bantuan pemerintah yakni
Kementerian Pemuda dan Olahraga sebesar Rp 100 miliar, dikhawatirkan
pebalap asal Solo tersebut dicoret dari tim Manor Marussia. Apalagi,
tenggat waktu yang diminta Manor sudah habis sejak pekan lalu.
"Manajemen Rio harus aktif. Kalau nunggu APBN, ada beberapa prosedur
yang harus dilalui. Semestinya Pertamina itu yang didekati karena
katanya sudah menyiapkan Rp 78 miliar," ujar Sekjen KONI Pusat, EF
Hamidy, usai penyerahan bantuan peralatan latihan dan pertandingan untuk
kepada PB Persatuan Soft Tenis Indonesia (PB Pesti), di Kantor KONI
Pusat, Jakarta, Kamis (4/2).
Menurut Hamidy, Pertamina akan lebih mudah mencairkan dana Rp 78
miliar dibandingkan Kempora. Alasannya, anggaran yang dipakai itu
merupakan dana Coorporate Social Responsibility (CSR).
"Pertaminalah yang harus dikejar. Katanya, Pertamina tidak akan
mengucurkan anggaran kalau Kemenpora tidak mencairkan lebih dulu. Kalau
model begitu tidak akan ketemu, seperti ayam telur ayam telur, duluan
mana. Apalagi ini kan sudah perintah Bapak Presiden untuk membantu Rio,”
ungkap Hamidy.
Untuk bantuan Kempora, dananya nanti akan disalurkan melalui KONI
Pusat. Ini juga sudah sesuai nota kesepahaman (MoU) antara Kempora, KONI
Pusat dan manajemen Rio tentang pemberian bantuan untuk Rio Haryanto
menuju F1 yang sudah diteken dua pekan lalu. Menurutnya, untuk anggaran
Kempora masih menunggu proses pencairan dari Dirjen Anggaran Kementerian
Keuangan.
"Uangnya pasti cair, tapi kan masih menunggu proses. Kalau manajemen
Rio menunggu, takutnya nama Rio sudah dicoret dari Manor. Jadi
solusinya, lebih baik pihak Rio cari sponsor lain dulu atau dekati
Pertamina,” jelas dia.
Mengenai adanya kecemburuan dari atlet atau cabang olahraga lain,
Hamidy meminta semua pihak tak mempersoalkannya. Pria yang juga menjabat
Pjs Ketua Umum PB Persani itu, kalau kondisi keuangan negara memadai,
maka semua cabang olahraga akan diberi merata.
"Sepintas memang kurang adil. Tapi ketika keuangan negara belum
maksimal, tentu harus ada prioritas. Kita harus berpikir ke situ. Ini
kesempatan Rio ke F1. Kalau tahun ini ada peluang, kenapa tidak diambil
karena belum tentu tahun depan bisa mencapainya,” tutup dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar