Jakarta - Pemanfaatan thorium untuk energi nampaknya
masih perlu jalan panjang. Sebab, meski penelitian thorium sudah
dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada yang secara penuh
mengaplikasikannya secara komersial.
Pakar International Atomic Energy Agency (IAEA), Matt Krause,
berpendapat, bahwa dari sisi fisik thorium jauh lebih bagus dari
uranium. Potensi thorium di dunia pun bisa mencapai 3-4 kali lipat dari
uranium.
"Namun thorium bukan fisil yang bisa membelah dan butuh neutron.
Karena titik leburnya tinggi ada kerumetan sifat kimia tapi sifatnya
lebih stabil," katanya di kantor Batan, Kamis (4/2).
Bahkan menurutnya, jika dikombinasikan dengan uranium kemanfaatannya
thorium lebih lama. Namun untuk sampai ke arah sana, banyak tantangan
yang harus dipecahkan.
Ia menambahkan, mengenai aspek keselamatan amat bergantung teknologi
yang digunakan. Aspek keamanan dan keselamatan merupakan hal utama yang
IAEA tekankan.
Pembangkit listrik berbahan bakar thorium sudah mulai dikembangkan
pada tahun 1965 oleh Glen Seaborg di Oak Ridge National Laboratory,
Amerika Serikat dengan memanfaatkan thorium dalam bentuk cair.
Setelah beberapa tahun pengoperasiannya dihentikan. Tahun 1967 Jerman
berinisiatif untuk mengembangkan teknologi yang sama dan kemudian
diikuti oleh India. Pada perkembangan selanjutnya Tiongkok dan Jepang
juga ikut mengembangkan pembangkit listrik tenaga thorium.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, masih butuh beberapa dekade sampai pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis thorium terwujud.
Djarot berpendapat, yang perlu dibangun adalah infrastruktur
pendukung, termasuk bagaimana melakukan fabrikasi serta siklus daur
ulang bahan bakarnya.
"Tugas Batan adalah meneliti dan mengkaji kegiatan tersebut. Reaktor
Daya Eksperimental menjadi jembatan penelitian thorium, sebelum
implementasi secara komersial," ucapnya.



0 komentar:
Posting Komentar